Senin, 07 Juli 2014

Politik dan Rasisme dalam Cerpen Gembritt Foury Karya M. Shoim Anwar



Politik dan Rasisme dalam Cerpen Gembritt Foury
Karya M. Shoim Anwar

Perjalanan kehidupan manusia berlangsung di masyarakat itu melingkupi semua segi-segi sosial kehidupan. Hampir setiap pembicaraan yang ada dalam cerpen karya Shoim Anwar ini mengungkapkan dengan jelas dan rinci permasalahan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Shoim Anwar dalam menampilkan gagasan dan pemikirannya tentang manusia Indonesia modern dalam lingkup global, emansipatif, dan dibingkai dengan permasalahan-permasalahan kehidupan sosial mutakhir, seperti kebengisan kekuasaan politik, pelanggaran HAM, KKN.
Cerpen ini bermuara pada munculnya kasus pelanggaran HAM yang menimpa keluarga Gembritt Foury, seorang imigran Mobile, Alabana. Dia berdarah campuran. Ibunya seorang kulit hitam dan ayahnya seorang kulit putih dan kasus intrik-intrik politik.
Suatu hari ibu Gembritt ditemukan di belakang rumah dalam keadaan luka parah , bahkan hampir tewas. Inilah kali pertama tindakan rasisme dan pelanggaran HAM yang dialami keluarga Gembritt. Di beberapa negara, nafas rasisme masih banyak terjadi.
Kutipan berikut menunjukkan bagaimana kekejaman politik, ambisi kekuasaan dan keserakahan para pemimpin yang banyak terjadi di hampir seluruh negara:
“Apa?” saya bertanya.
“Politik!” jawabnya sambil meninggalkan jendela.
“Mengapa politik?”
“Kata orang, politik itu lading yang paling banyak ditaburi dosa karena ambisi kekuasaan.”
“Kau melihat begitu?”
“Tentu saja! Mulanya berjanji akan memperjuangkan nasib rakyat. Tapi lama-lama rakyat diperas. Kekeyaan negara diserap dan ditumpuk untuk anak cucunya dengan didirikan perusahaan di mana-mana. Pemimpin ini memberikan jabatan-jabatan penting pada segenap keluarga, kendati sebenarnya tidak becus. Mereka membentuk jaringan-jaringan politis dan ekonomis….(halaman 150)

Karena hukum dan politik tidak sesuai dengan kehendak masyarakat dan pada prakteknya bisa dibeli dengan uang dan jabatan dalam pelaksanaannya, maka masyarakat akan melakukan tindakan-tindakan yang menurutnya benar walaupun terkadang dinilai anarkis dan merugikan kepentingan umum.
Tiga hari setelah kepergian Gembritt, situasi Kuba mendidih. Tembakan sering terdengar di mana-mana. Para mahasiswa turun ke broadway sambil meriakkan yel-yel. Mereka menentang rezim dictator Fulgencio Batista maupun Gerardo Machado. Dikabarkan pula bahwa di sekitar bandara Havana terjadi hal serupa. Delapan mahasiswa tewas ditembak tentara, lainnya luka-luka. Sementara dari kelompok sempalan yang didalangi Fidel Castro mengajukan protes keras terhadap penguasa yang dianggap tiran itu.(halaman152-53)

Di saat aktivitas Gembritt semakin intensif, muncullah teror-teror. Kematian-kematian silih berganti. Bahkan hal yang paling mengejutkan adalah Gembritt ditemukan tewas di apartemennya.
Malam itu telepon di kamar Gembritt terus berdering tiap tiga menit sekali. Tapi peneleponnya tak juga mau bicara. Tampaknya ia Cuma mau main-main, atau sengaja menteror barangkali. (halaman 152)
Situasi Havana semakin kacau. Yel-yel mahasiswa tambah berani di jalan-jalan. Pertumpahan darah mulai terjadi antar tentara dan massa. (halaman 154)
Akhirnya keinginan saya menjadi kuat untuk membuka kamar itu. Saya pun segera memasukkan kunci ke lubangnya. Dan rontokklah jantung saya seketika: glarrr! Saya terkejut alang kepalang. Saya melihat Gembritt terkapar di lantai. Tampak darah berceceran dan sudah mulai mongering. Tampaknya darah itu bekas mengalir dari dadanya. (halaman 154-55) 

Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.
Nama: Fitri Nur Ardiantini
Nim   : 105200277 (F/2010)

Konflik Batin Tokoh Utama Pria dalam Cerpen Surat Terakhir Karya M. Shoim Anwar (Tinjauan Psikologi Sastra)



Konflik Batin Tokoh Utama Pria
dalam Cerpen Surat Terakhir Karya M. Shoim Anwar
(Tinjauan Psikologi Sastra)

Psikologi sastra berasal dari dua kata yaitu psikologi dan sastra. Psikologi adalah segala ilmu yang mempelajari dan menyelidiki tentang tingkah laku dan aktivitas manusia( dalam Walgito, 1994: 9). Diragunarsa (dalam Ahmadi, 1990:1) mendefinisikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia/ gejala-gejala manusia sedangkan sastra adalah hasil imajinasi kreasi pengarang yang menggunakan bahasa sebagai medianya (dalam Hardjana, 1994:28).
Dalam cerpen tentu terdapat sebuah jalinan peristiwa karena pada hakikatnya, cerpen merupakan sebuah karangan narasi. Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Bentuk peristiwa dalam sebuah cerita, sebagaimana telah dikemukakan dapat berupa peristiwa fisik ataupun batin. Peristiwa fisik melibatkan aktivitas fisik, ada interaksi antara seorang tokoh cerita dengan sesuatu yang di luar dirinya: tokoh lain atau lingkungan. Pendapat dari internet http://akubuku.blogspot.com konflik batin adalah satu bagian dari sisi jiwa manusia yang mendapat permasalahan atau pertentangan dengan kondisi jiwa seseorang baik terjadi dalam dirinya sendiri maupun dengan orang di sekitarnya.
Cerpen Surat Terakhir merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang kental dengan konflik yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Shoim mencoba menuangkan peristiwa kehidupan yang sering terjadi di masyarakat dalam bentuk karya sastra cerpen.

Konflik Batin Menurut Psikologi Sastra
Tokoh Aku masih terbayang-bayang masa lalunya dulu bersama gadis pujaannya, Susmia. Bahkan Ia masih menyimpan surat terakhir dari Susmia. Ia merasa hati seperti teriris saat Susmia mengatakan bahwa dia terpaksa menyerahkan hidupnya pada kedua orang tuanya.
Surat terakhir dari Susmia kubaca kembali. Kalimat demi kalimat. Terasa menyentuh, tapi sekaligus perih di dada. “Saya terpaksa menyerahkan hidupku pada kedua orang tua,” tulis Susmia. Kalimat terakhir itu menancap di mataku. Surat ditutup dengan gambar setangkai bunga layu pada baris terakhir. (halaman 141)

Pergolakan batin muncul saat kenangan tersebut muncul. Ada perasaan menyesal dan bersalah atas ketidakmampuan Si Aku untuk mempertahankan cinta Susmia. Ia sangat mencintai gadis ini begitupun sebaliknya. Namun keadaanlah yang membuat cinta mereka tak bisa bersatu.
“Kalau kamu setia, mengapa kamu tidak mengawininya?” pertanyaan bernada mengejek itu muncul di udara.
“Saya dipaksa oleh keadaan,” aku membela diri.
“Jangan mengambinghitamkan keadaan. Itu mestinya kamu atasi. Yang jelas kamu telah memutuskan cinta seorang perempuan yang tulus.”
“Saya orang miskin. Beban saya untuk menyelesaikan kuliah amat berat. Saya tak sampai hati memperlakukan dia untuk menanti tanpa batas waktu yang jelas.”
“Tapi dia sanggup menantimu sampai kapan pun.”
“Saya tak ingin orang yang saya cintai itu menderita karena penantian yang terlalu panjang. Sekali lagi, saya sangat mencintainya. Sampai sekarang pun saya masih kirim kartu lebaran setiap tahun. (halaman 142)

Ketika Susmia memutuskan untuk menikah dengan orang lain, hati Si Aku terasa hancur. Ia merasa ada separuh dari jiwanya hilang. Gadis yang sangat dicintainya akan bersanding dengan orang lain. Ia ingin menolak semua ini, namun semuanya sudah terlambat. Ia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Yang dapat dilakukannya hanya berpasrah menerima takdir yang sudah terjadi.
Saat nikah dahulu Susmia benar-benar memenuhi harapanku. Dalam suratku yang terakhir, aku berpesan apabila dia menikah hendaklah aku diberi tahu. Saat pemberitahuan itu benar-benar datang aku spontan lemas. Rasanya adayang hilang pada diriku. Perempuan yang sebnarnya masih kucintai itu sebentar lagi jadi milik orang lain. Aku remas-remas kepalaku sendiri. Aku pukul-pukul diriku sendiri. Aku umpat-umpat diriku sendiri. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. (halaman 144)

Ia menyadari bahwa sebenarnya Susmia masih mencintainya. Namun ia sadar bahwa Susmia telah menjadi istri orang lain. Ia dan Susmia tak mungkin bersatu dalam ikatan pernikahan. Itulah yang membuat Si Aku menjadi galau dan sangat kecewa dengan nasib yang menimpa dirinya
Seusai dari rumah Susmia, aku semakin dapat menyimpulkan bahwa perempuan itu sebanarnya masih mencintaiku. Tapi aku juga sadar bahwa kini dia sudah menjadi milik orang lain. Jarak antara kami sudah amat tegas. Akhirnya, aku menjadi oleng dan galau. (halaman 145)


Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.


Nama: Fitri Nur Ardiantini
Nim   : 105200277
Kelas: F/ 2010

Konflik Batin Tokoh Utama Pria dalam Cerpen Surat Terakhir Karya M. Shoim Anwar (Tinjauan Psikologi Sastra)



Potret Wanita dalam Cerpen Jawa, Cina, Madura Nggak Masalah. Yang Penting Rasanya…..
Karya M. Shoim Anwar
(Sebuah Kajian Feminis)

Kata Feminis, secara etimologi berasal dari kata femme yang berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. (Selden, dalam Ratna, 2004: 184). Menurut Farha yang dimaksud istilah feminism adalah sebuah kesadaran akan adanya ketertindasan perempuan baik di lingkup rumah tangga, di tempat kerja, ataupun di tengah masyarakat dan berdasarkan kesadaran itu diupayakan pelbagai cara untuk mengatasi masalah tersebut (2000: 69).
Dalam pengertian yang paling luas feminis merupakan gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya (Ratna, 2004: 184). Arti kritik sastra feminis secara sederhana adalah sebuah kritik sastra yang memandang sastra dengan kesadaran khusus dengan adanya jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia (Sugihastuti dalam Satoto (ed), 2000: 85). Dengan kata lain feminisme mengharuskan para perempuan mendobrak reproduksi wacana yang dihasilkan oleh kenyataan-kenyataan sosial.
Cerpen karya Shoim Anwar ini begitu menarik untuk diulas dan dianalisis. Cerpen ini disajikan dengan gaya bahasa yang menggelitik dan sangat menarik. Shoim sangat cerdas dalam mengolah kata. Pada bagian awal cerita, kata-kata yang digunakan memang membuat orang yang membacanya menafsirkan sesuatu yang sedikit vulgar, namun endingnya tidak. Pengarang sengaja menggunakan kata-kata tersebut untuk menggugah minat para pembacanya.


“Mau enaknya saja,”tukasnya. “Aku tambah lebih capek!”
“Mestinya itu urusanmu,”saya membalas.
“Kalau ingin yang cantik kamu harus berkorban!”
“Malu,”saya membalas pelan.
“Begituan malu. Kasep. Tega-teganya istri disuruh sendirian.”
“Kebanyakan perempuan melakukannya sendiri.”
“Tiap hari kok melayani melulu dan selalu di bawah suami. Sesekali aku di atas biar sedikit leluasa bergerak.”(halaman 134)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa sesekali sang istri ingin menjadi pemimpin. Ia tidak ingin selalu disuruh-suruh, melayani suaminya terus meskipun ia sadar itu merupakan kodratnya sebagai wanita. Ia ingin bebas mengekspresikan dirinya, melakukan banyak hal yang diinginkan, menjadi wanita yang mandiri.

“Jangan macam-macam. Kurang apa aku?”
“Nggak kurang.”
“Pakai membanding-bandingkan dengan Cina dan Madura segala.”
“Justru harus dibandingkan biar tahu kelebihannya.”
“kurang cantik?”
“Nggak,” (halaman 136)

Kutipan di atas jelas menunjukkan bahwa wanita ingin selalu menjadi yang pertama. Ia tidak ingin dibanding-bandingkan dengan wanita lain. Karena wanita lebih sensitive dan emosional. Wanita selalu ingin disayang dan diutamakan dalam berbagai hal.

Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.

Nama: Fitri Nur Ardiantini
Nim   : 105200277
Kelas: F/ 2010

Potret Realitas Sosial dalam Cerpen Kutunggu di Jarwal Karya M. Shoim Anwar



Potret Realitas Sosial  dalam Cerpen
 Kutunggu di Jarwal Karya M. Shoim Anwar

Cerpen sebagai salah satu genre sastra merupakan ungkapan tertulis dari seorang pengarang tentang berbagai hal, termasuk kehidupan sosial. Karena pada hakikatnya kehidupan manusia tersebut sangat tergantung pada kenyataan sosial yang ada dalam suatu masyarakat. Seperti halnya hasil sastra yang lain, cerpen dan realitas sosial saling memberi pengaruh atau menerima pengaruh antara yang satu dengan yang lain. Sehingga sastra termasuk cerpen terwujud dari realitas sosial yang bertata nilai, dan sebaliknya sastra mampu menyumbangkan bagi terbentuknya kehidupan manusia yang bertata nilai.
Hampir semua cerpen Indonesia sejak awal pertumbuhannya hingga dewasa ini boleh dikatakan mengandung unsur pesan kritik sosial. Karena memang, karya sastra merupakan peniruan dari kejadian alam, sosial kemasyarakatan senbagaimana diisyaratkan dalam teori mimesis. Ketika pengarang menjadi anggota masyarakat, kemudian terilhami oleh realitas sosial dan diekspresikannya dalam bentuk karya ; maka di sinilah tergambar bagaimana kedekatan antara pengarang dan karyannya dengan sosial kemasyarakatannya.
Sama halnya dengan M. Shoim Anwar. Sebagai pengarang cerpen, Ia ingin berucap tentang suatu realitas yang sering terjadi di masyarakat saat ini. Cerpen kutunggu di Jarwal mengandung banyak unsur sosial yang terjadi dalam setiap rangkaian peristiwa di dalam ceritanya. Hal ini disebabkan dalam pandangan sosiologi sastra seorang sastrawan memiliki latar belakang sosial kehidupan yang menentukan dalam penciptaan karya sastra. M. Shoim Anwar karena itu, menyuguhkan banyak nilai kehidupan sosial yang menarik untuk dikritisi: sosial kemanusiaan, sosial religiusitas, dan sebagainya.

A.  Sosial Religiusitas
Pemahaman akan agama dan “keyakinan pada Tuhan” didiskusikan dengan tawar-menawar antara dosa dan kesadara, serta kematian.
Aku datang ke kota ini untuk membersihkan diri dari debu-debu dan kotoran hati. Pada akhir sisa hidup, seperti tak ada jalan lain, kota ini menjadi tumpuan pengakuan. Uang pensiun terkapling tanpa sisa, bahkan kurang. Ratusan, bahkan ribuan perkara yang pernah aku tangani, menyisakan rasa nyeri. Lingkaran setan dari waktu ke waktu telah membentuk labirin. Pada akhir sisa hidup ini semua berubah jadi duri. (halaman 2)

Kutipan di atas merupakan wujud kesadaran tokoh Aku tentang dosa yang pernah ia perbuat di masa lampau. Ia merasa dikejar-kejar oleh dosa. Namun dalam hatinya ada keinginan untuk berubah, memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.

Aliran darahku terasa lebih kencang. Sebuah permintaan yang aneh. Sekali lagi, aku ke sini untuk mati, bukan untuk menikmati kehidupan duniawi. Nasib yang dialami Ina mungkin benar adanya, tapi permintaannya untuk menikah dengan aku jelas tidak mungkin. Ina dengan Si Bangladesh tentu sudah bergaul akrab. Bahkan, andai aku mau menikahi dan Ina tidak tinggal serumah dengan aku, aku yakin dia akan tidur dengan Si Bangladesh. Itu sama saja dengan aku member kesempatan dia untuk melanggar aturan. Aku akan diperalat oleh dia. Tidak! Tidak! Aku tak mau menuruti skenario Ina! (halaman 17)

Tokoh Aku bersikeras menolak ajakan Ina untuk menikah. Karena tujuan utama dia ke Jarwal bukanlah untuk menikah melainkan mempersiapkan kematiannya. Dia sadar apabila menuruti kemauan Ina, akan lebih dalam terjerumus dalam dosa.

Aku menggigil. Kematianku mungkin sudah dekat. Malaikat pencabut nyawa barangkali telah menjelmakan diri sebagai cuaca yang menusuk hingga ke tulangku. Tapi aku tak boleh mati di bilik yang sempit dan kotor ini. Aku ingin mati di Tempat Suci. (halaman 18)
……Wajahku terpantul di sana: tua, kurus, kering, dan keriput. Bisa saja sebentar lagi aku menyusulnya. Kehadiranku ke sini, tak lain dan tak bukan, adalah untuk mati! Maka, perkenankan aku untuk menunggunya, di sini, di Jarwal ini….(halaman 22)

Terlihat jelas dalam kutipan di atas bahwa tokoh Aku telah siap untuk mati. Ia merasa hidupnya selalu dibuntuti oleh malaikat pencabut nyawa. Meskipun selama hidupnya banyak melakukan dosa, akan tetapi Ia ingin mati di tempat yang suci dan dalam keadaan mulia.
Dalam gambaran di atas, bahwasanya sence of religi itu mencakup akan pengakuan kebesaran Tuhan, perasaan akan dosa, dan perasaan takut kepada-Nya. Bagaimanapun Tuhan, tampaknya menjadi tempat kembali.

B.Sosial Kemanusiaan
Dalam cerpen Kutunggu di Jarwal ini, Shoim juga mengangkat tokoh bernama Ina seorang TKW dari Indonesia yang diperlakukan semena-mena oleh majikannya.
“ Begini, Pak,” Ina tampaknya makin serius, “ seperti juga yang  lain, di sini saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Tuan Abu Jahal. Susah kalau di sini tak ada suami. Juragan selalu maksa minta begituan setiap saat.”
“Maksudnya?”
“Suruh melayani kayak hubungan suami istri.”(halaman 12)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Ina merasa tertekan dan tidak nyaman bekerja di rumah Abu Jahal. Ia sering dijadikan budak hawa nafsu majikannya. Perlakuan ini tidak akan berhenti sampai Ina memiliki suami.

….Nasib sudah terlanjur begini. Saya menyesal ada di sini. Jangan sampai ada perempuan ke negeri ini tanpa suami. Kami dibayar paling murah disbanding pekerja dari negeri lain. Kami disamakan dengan budak, dianggap sah untuk diperlakukan apa saja oleh tuannya.”(halaman 12)


Dalam kutipan di atas, manggambarkan bahwa nasib TKW Indonesia di luar negeri memang sangat menyedihkan. Mereka diperlakukan layaknya budak. Tempat pemuas hawa nafsu para majikan. Upah yang tidak sebanding dengan pekerjaannya. Terkadang mereka juga dianiaya apabila melakukan kesalahan. Shoim ingin menunjukkan lewat cerpennya betapa kejam kehidupan di negeri orang sebagai seorang TKW. Dengan iming-iming gaji yang tinggi, namun pada kenyataannya banyak yang pulang hanya tinggal nama.

Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.


Nama: Fitri Nur Ardiantini
Nim   : 105200277
Kelas: F/ 2010