Potret
Wanita dalam Cerpen Jawa, Cina, Madura Nggak Masalah. Yang Penting Rasanya…..
Karya
M. Shoim Anwar
(Sebuah Kajian Feminis)
Kata Feminis, secara
etimologi berasal dari kata femme yang
berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum
perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. (Selden, dalam Ratna, 2004: 184).
Menurut Farha yang dimaksud istilah feminism adalah sebuah kesadaran akan
adanya ketertindasan perempuan baik di lingkup rumah tangga, di tempat kerja,
ataupun di tengah masyarakat dan berdasarkan kesadaran itu diupayakan pelbagai
cara untuk mengatasi masalah tersebut (2000: 69).
Dalam pengertian yang
paling luas feminis merupakan gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu
yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan
dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada
umumnya (Ratna, 2004: 184). Arti kritik sastra feminis secara sederhana adalah
sebuah kritik sastra yang memandang sastra dengan kesadaran khusus dengan
adanya jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan
kehidupan manusia (Sugihastuti dalam Satoto (ed), 2000: 85). Dengan kata lain
feminisme mengharuskan para perempuan mendobrak reproduksi wacana yang
dihasilkan oleh kenyataan-kenyataan sosial.
Cerpen karya Shoim
Anwar ini begitu menarik untuk diulas dan dianalisis. Cerpen ini disajikan
dengan gaya bahasa yang menggelitik dan sangat menarik. Shoim sangat cerdas
dalam mengolah kata. Pada bagian awal cerita, kata-kata yang digunakan memang
membuat orang yang membacanya menafsirkan sesuatu yang sedikit vulgar, namun endingnya tidak. Pengarang sengaja
menggunakan kata-kata tersebut untuk menggugah minat para pembacanya.
“Mau enaknya saja,”tukasnya. “Aku
tambah lebih capek!”
“Mestinya itu urusanmu,”saya
membalas.
“Kalau ingin yang cantik kamu harus
berkorban!”
“Malu,”saya membalas pelan.
“Begituan malu. Kasep. Tega-teganya
istri disuruh sendirian.”
“Kebanyakan perempuan melakukannya
sendiri.”
“Tiap hari kok melayani melulu dan
selalu di bawah suami. Sesekali aku di atas biar sedikit leluasa bergerak.”(halaman
134)
Kutipan di atas
menunjukkan bahwa sesekali sang istri ingin menjadi pemimpin. Ia tidak ingin
selalu disuruh-suruh, melayani suaminya terus meskipun ia sadar itu merupakan
kodratnya sebagai wanita. Ia ingin bebas mengekspresikan dirinya, melakukan
banyak hal yang diinginkan, menjadi wanita yang mandiri.
“Jangan macam-macam. Kurang apa
aku?”
“Nggak kurang.”
“Pakai membanding-bandingkan dengan
Cina dan Madura segala.”
“Justru harus dibandingkan biar
tahu kelebihannya.”
“kurang cantik?”
“Nggak,” (halaman 136)
Kutipan
di atas jelas menunjukkan bahwa wanita ingin selalu menjadi yang pertama. Ia
tidak ingin dibanding-bandingkan dengan wanita lain. Karena wanita lebih
sensitive dan emosional. Wanita selalu ingin disayang dan diutamakan dalam
berbagai hal.
Daftar
Pustaka
Anwar, M. Shoim.
2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo:
Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa.
Yogyakarta : Pustaka Felicha.
Nama:
Fitri Nur Ardiantini
Nim : 105200277
Kelas:
F/ 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar