Senin, 07 Juli 2014

Konflik Batin Tokoh Utama Pria dalam Cerpen Surat Terakhir Karya M. Shoim Anwar (Tinjauan Psikologi Sastra)



Potret Wanita dalam Cerpen Jawa, Cina, Madura Nggak Masalah. Yang Penting Rasanya…..
Karya M. Shoim Anwar
(Sebuah Kajian Feminis)

Kata Feminis, secara etimologi berasal dari kata femme yang berarti perempuan (tunggal) yang berjuang untuk memperjuangkan hak-hak kaum perempuan (jamak), sebagai kelas sosial. (Selden, dalam Ratna, 2004: 184). Menurut Farha yang dimaksud istilah feminism adalah sebuah kesadaran akan adanya ketertindasan perempuan baik di lingkup rumah tangga, di tempat kerja, ataupun di tengah masyarakat dan berdasarkan kesadaran itu diupayakan pelbagai cara untuk mengatasi masalah tersebut (2000: 69).
Dalam pengertian yang paling luas feminis merupakan gerakan kaum wanita untuk menolak segala sesuatu yang dimarginalisasikan, disubordinasikan, dan direndahkan oleh kebudayaan dominan, baik dalam bidang politik dan ekonomi maupun kehidupan sosial pada umumnya (Ratna, 2004: 184). Arti kritik sastra feminis secara sederhana adalah sebuah kritik sastra yang memandang sastra dengan kesadaran khusus dengan adanya jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia (Sugihastuti dalam Satoto (ed), 2000: 85). Dengan kata lain feminisme mengharuskan para perempuan mendobrak reproduksi wacana yang dihasilkan oleh kenyataan-kenyataan sosial.
Cerpen karya Shoim Anwar ini begitu menarik untuk diulas dan dianalisis. Cerpen ini disajikan dengan gaya bahasa yang menggelitik dan sangat menarik. Shoim sangat cerdas dalam mengolah kata. Pada bagian awal cerita, kata-kata yang digunakan memang membuat orang yang membacanya menafsirkan sesuatu yang sedikit vulgar, namun endingnya tidak. Pengarang sengaja menggunakan kata-kata tersebut untuk menggugah minat para pembacanya.


“Mau enaknya saja,”tukasnya. “Aku tambah lebih capek!”
“Mestinya itu urusanmu,”saya membalas.
“Kalau ingin yang cantik kamu harus berkorban!”
“Malu,”saya membalas pelan.
“Begituan malu. Kasep. Tega-teganya istri disuruh sendirian.”
“Kebanyakan perempuan melakukannya sendiri.”
“Tiap hari kok melayani melulu dan selalu di bawah suami. Sesekali aku di atas biar sedikit leluasa bergerak.”(halaman 134)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa sesekali sang istri ingin menjadi pemimpin. Ia tidak ingin selalu disuruh-suruh, melayani suaminya terus meskipun ia sadar itu merupakan kodratnya sebagai wanita. Ia ingin bebas mengekspresikan dirinya, melakukan banyak hal yang diinginkan, menjadi wanita yang mandiri.

“Jangan macam-macam. Kurang apa aku?”
“Nggak kurang.”
“Pakai membanding-bandingkan dengan Cina dan Madura segala.”
“Justru harus dibandingkan biar tahu kelebihannya.”
“kurang cantik?”
“Nggak,” (halaman 136)

Kutipan di atas jelas menunjukkan bahwa wanita ingin selalu menjadi yang pertama. Ia tidak ingin dibanding-bandingkan dengan wanita lain. Karena wanita lebih sensitive dan emosional. Wanita selalu ingin disayang dan diutamakan dalam berbagai hal.

Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.

Nama: Fitri Nur Ardiantini
Nim   : 105200277
Kelas: F/ 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar