Konflik
Batin Tokoh Utama Pria
dalam
Cerpen Surat Terakhir Karya M. Shoim Anwar
(Tinjauan Psikologi Sastra)
Psikologi sastra berasal dari dua kata yaitu psikologi dan sastra.
Psikologi adalah segala ilmu yang mempelajari dan menyelidiki tentang tingkah laku
dan aktivitas manusia( dalam Walgito, 1994: 9). Diragunarsa (dalam Ahmadi, 1990:1)
mendefinisikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia/
gejala-gejala manusia sedangkan sastra adalah hasil imajinasi kreasi pengarang
yang menggunakan bahasa sebagai medianya (dalam Hardjana, 1994:28).
Dalam cerpen tentu terdapat sebuah jalinan peristiwa
karena pada hakikatnya, cerpen merupakan sebuah karangan narasi. Peristiwa dan
konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu
dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Bentuk
peristiwa dalam sebuah cerita, sebagaimana telah dikemukakan dapat berupa
peristiwa fisik ataupun batin. Peristiwa fisik melibatkan aktivitas fisik, ada
interaksi antara seorang tokoh cerita dengan sesuatu yang di luar dirinya:
tokoh lain atau lingkungan. Pendapat dari internet http://akubuku.blogspot.com
konflik batin adalah satu bagian dari sisi jiwa manusia yang mendapat
permasalahan atau pertentangan dengan kondisi jiwa seseorang baik terjadi dalam
dirinya sendiri maupun dengan orang di sekitarnya.
Cerpen Surat Terakhir merupakan
salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang kental dengan konflik yang
ada dalam kehidupan sehari-hari. Shoim mencoba menuangkan peristiwa kehidupan
yang sering terjadi di masyarakat dalam bentuk karya sastra cerpen.
Konflik
Batin Menurut Psikologi Sastra
Tokoh Aku masih
terbayang-bayang masa lalunya dulu bersama gadis pujaannya, Susmia. Bahkan Ia
masih menyimpan surat terakhir dari Susmia. Ia merasa hati seperti teriris saat
Susmia mengatakan bahwa dia terpaksa menyerahkan hidupnya pada kedua orang
tuanya.
Surat terakhir dari Susmia kubaca
kembali. Kalimat demi kalimat. Terasa menyentuh, tapi sekaligus perih di dada.
“Saya terpaksa menyerahkan hidupku pada kedua orang tua,” tulis Susmia. Kalimat
terakhir itu menancap di mataku. Surat ditutup dengan gambar setangkai bunga
layu pada baris terakhir. (halaman 141)
Pergolakan batin muncul saat kenangan
tersebut muncul. Ada perasaan menyesal dan bersalah atas ketidakmampuan Si Aku
untuk mempertahankan cinta Susmia. Ia sangat mencintai gadis ini begitupun
sebaliknya. Namun keadaanlah yang membuat cinta mereka tak bisa bersatu.
“Kalau kamu setia, mengapa kamu
tidak mengawininya?” pertanyaan bernada mengejek itu muncul di udara.
“Saya dipaksa oleh keadaan,” aku
membela diri.
“Jangan mengambinghitamkan keadaan.
Itu mestinya kamu atasi. Yang jelas kamu telah memutuskan cinta seorang
perempuan yang tulus.”
“Saya orang miskin. Beban saya
untuk menyelesaikan kuliah amat berat. Saya tak sampai hati memperlakukan dia
untuk menanti tanpa batas waktu yang jelas.”
“Tapi dia sanggup menantimu sampai
kapan pun.”
“Saya tak ingin orang yang saya
cintai itu menderita karena penantian yang terlalu panjang. Sekali lagi, saya
sangat mencintainya. Sampai sekarang pun saya masih kirim kartu lebaran setiap
tahun. (halaman 142)
Ketika Susmia memutuskan untuk menikah
dengan orang lain, hati Si Aku terasa hancur. Ia merasa ada separuh dari
jiwanya hilang. Gadis yang sangat dicintainya akan bersanding dengan orang
lain. Ia ingin menolak semua ini, namun semuanya sudah terlambat. Ia tak mampu
berbuat apa-apa lagi. Yang dapat dilakukannya hanya berpasrah menerima takdir
yang sudah terjadi.
Saat
nikah dahulu Susmia benar-benar memenuhi harapanku. Dalam suratku yang
terakhir, aku berpesan apabila dia menikah hendaklah aku diberi tahu. Saat
pemberitahuan itu benar-benar datang aku spontan lemas. Rasanya adayang hilang
pada diriku. Perempuan yang sebnarnya masih kucintai itu sebentar lagi jadi
milik orang lain. Aku remas-remas kepalaku sendiri. Aku pukul-pukul diriku
sendiri. Aku umpat-umpat diriku sendiri. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa.
(halaman 144)
Ia menyadari bahwa sebenarnya Susmia
masih mencintainya. Namun ia sadar bahwa Susmia telah menjadi istri orang lain.
Ia dan Susmia tak mungkin bersatu dalam ikatan pernikahan. Itulah yang membuat
Si Aku menjadi galau dan sangat kecewa dengan nasib yang menimpa dirinya
Seusai
dari rumah Susmia, aku semakin dapat menyimpulkan bahwa perempuan itu
sebanarnya masih mencintaiku. Tapi aku juga sadar bahwa kini dia sudah menjadi
milik orang lain. Jarak antara kami sudah amat tegas. Akhirnya, aku menjadi
oleng dan galau. (halaman 145)
Daftar
Pustaka
Anwar, M. Shoim.
2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo:
Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa.
Yogyakarta : Pustaka Felicha.
Nama:
Fitri Nur Ardiantini
Nim : 105200277
Kelas:
F/ 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar