Senin, 07 Juli 2014

Konflik Batin Tokoh Utama Pria dalam Cerpen Surat Terakhir Karya M. Shoim Anwar (Tinjauan Psikologi Sastra)



Konflik Batin Tokoh Utama Pria
dalam Cerpen Surat Terakhir Karya M. Shoim Anwar
(Tinjauan Psikologi Sastra)

Psikologi sastra berasal dari dua kata yaitu psikologi dan sastra. Psikologi adalah segala ilmu yang mempelajari dan menyelidiki tentang tingkah laku dan aktivitas manusia( dalam Walgito, 1994: 9). Diragunarsa (dalam Ahmadi, 1990:1) mendefinisikan psikologi sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia/ gejala-gejala manusia sedangkan sastra adalah hasil imajinasi kreasi pengarang yang menggunakan bahasa sebagai medianya (dalam Hardjana, 1994:28).
Dalam cerpen tentu terdapat sebuah jalinan peristiwa karena pada hakikatnya, cerpen merupakan sebuah karangan narasi. Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Bentuk peristiwa dalam sebuah cerita, sebagaimana telah dikemukakan dapat berupa peristiwa fisik ataupun batin. Peristiwa fisik melibatkan aktivitas fisik, ada interaksi antara seorang tokoh cerita dengan sesuatu yang di luar dirinya: tokoh lain atau lingkungan. Pendapat dari internet http://akubuku.blogspot.com konflik batin adalah satu bagian dari sisi jiwa manusia yang mendapat permasalahan atau pertentangan dengan kondisi jiwa seseorang baik terjadi dalam dirinya sendiri maupun dengan orang di sekitarnya.
Cerpen Surat Terakhir merupakan salah satu karya sastra Indonesia kontemporer yang kental dengan konflik yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Shoim mencoba menuangkan peristiwa kehidupan yang sering terjadi di masyarakat dalam bentuk karya sastra cerpen.

Konflik Batin Menurut Psikologi Sastra
Tokoh Aku masih terbayang-bayang masa lalunya dulu bersama gadis pujaannya, Susmia. Bahkan Ia masih menyimpan surat terakhir dari Susmia. Ia merasa hati seperti teriris saat Susmia mengatakan bahwa dia terpaksa menyerahkan hidupnya pada kedua orang tuanya.
Surat terakhir dari Susmia kubaca kembali. Kalimat demi kalimat. Terasa menyentuh, tapi sekaligus perih di dada. “Saya terpaksa menyerahkan hidupku pada kedua orang tua,” tulis Susmia. Kalimat terakhir itu menancap di mataku. Surat ditutup dengan gambar setangkai bunga layu pada baris terakhir. (halaman 141)

Pergolakan batin muncul saat kenangan tersebut muncul. Ada perasaan menyesal dan bersalah atas ketidakmampuan Si Aku untuk mempertahankan cinta Susmia. Ia sangat mencintai gadis ini begitupun sebaliknya. Namun keadaanlah yang membuat cinta mereka tak bisa bersatu.
“Kalau kamu setia, mengapa kamu tidak mengawininya?” pertanyaan bernada mengejek itu muncul di udara.
“Saya dipaksa oleh keadaan,” aku membela diri.
“Jangan mengambinghitamkan keadaan. Itu mestinya kamu atasi. Yang jelas kamu telah memutuskan cinta seorang perempuan yang tulus.”
“Saya orang miskin. Beban saya untuk menyelesaikan kuliah amat berat. Saya tak sampai hati memperlakukan dia untuk menanti tanpa batas waktu yang jelas.”
“Tapi dia sanggup menantimu sampai kapan pun.”
“Saya tak ingin orang yang saya cintai itu menderita karena penantian yang terlalu panjang. Sekali lagi, saya sangat mencintainya. Sampai sekarang pun saya masih kirim kartu lebaran setiap tahun. (halaman 142)

Ketika Susmia memutuskan untuk menikah dengan orang lain, hati Si Aku terasa hancur. Ia merasa ada separuh dari jiwanya hilang. Gadis yang sangat dicintainya akan bersanding dengan orang lain. Ia ingin menolak semua ini, namun semuanya sudah terlambat. Ia tak mampu berbuat apa-apa lagi. Yang dapat dilakukannya hanya berpasrah menerima takdir yang sudah terjadi.
Saat nikah dahulu Susmia benar-benar memenuhi harapanku. Dalam suratku yang terakhir, aku berpesan apabila dia menikah hendaklah aku diberi tahu. Saat pemberitahuan itu benar-benar datang aku spontan lemas. Rasanya adayang hilang pada diriku. Perempuan yang sebnarnya masih kucintai itu sebentar lagi jadi milik orang lain. Aku remas-remas kepalaku sendiri. Aku pukul-pukul diriku sendiri. Aku umpat-umpat diriku sendiri. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. (halaman 144)

Ia menyadari bahwa sebenarnya Susmia masih mencintainya. Namun ia sadar bahwa Susmia telah menjadi istri orang lain. Ia dan Susmia tak mungkin bersatu dalam ikatan pernikahan. Itulah yang membuat Si Aku menjadi galau dan sangat kecewa dengan nasib yang menimpa dirinya
Seusai dari rumah Susmia, aku semakin dapat menyimpulkan bahwa perempuan itu sebanarnya masih mencintaiku. Tapi aku juga sadar bahwa kini dia sudah menjadi milik orang lain. Jarak antara kami sudah amat tegas. Akhirnya, aku menjadi oleng dan galau. (halaman 145)


Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.


Nama: Fitri Nur Ardiantini
Nim   : 105200277
Kelas: F/ 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar