Potret
Realitas Sosial dalam Cerpen
Kutunggu di Jarwal Karya M. Shoim Anwar
Cerpen sebagai salah
satu genre sastra merupakan ungkapan tertulis dari seorang pengarang tentang
berbagai hal, termasuk kehidupan sosial. Karena pada hakikatnya kehidupan manusia
tersebut sangat tergantung pada kenyataan sosial yang ada dalam suatu
masyarakat. Seperti halnya hasil sastra yang lain, cerpen dan realitas sosial
saling memberi pengaruh atau menerima pengaruh antara yang satu dengan yang
lain. Sehingga sastra termasuk cerpen terwujud dari realitas sosial yang
bertata nilai, dan sebaliknya sastra mampu menyumbangkan bagi terbentuknya
kehidupan manusia yang bertata nilai.
Hampir semua cerpen
Indonesia sejak awal pertumbuhannya hingga dewasa ini boleh dikatakan mengandung
unsur pesan kritik sosial. Karena memang, karya sastra merupakan peniruan dari
kejadian alam, sosial kemasyarakatan senbagaimana diisyaratkan dalam teori
mimesis. Ketika pengarang menjadi anggota masyarakat, kemudian terilhami oleh
realitas sosial dan diekspresikannya dalam bentuk karya ; maka di sinilah
tergambar bagaimana kedekatan antara pengarang dan karyannya dengan sosial
kemasyarakatannya.
Sama halnya dengan M.
Shoim Anwar. Sebagai pengarang cerpen, Ia ingin berucap tentang suatu realitas
yang sering terjadi di masyarakat saat ini. Cerpen kutunggu di Jarwal
mengandung banyak unsur sosial yang terjadi dalam setiap rangkaian peristiwa di
dalam ceritanya. Hal ini disebabkan dalam pandangan sosiologi sastra seorang
sastrawan memiliki latar belakang sosial kehidupan yang menentukan dalam
penciptaan karya sastra. M. Shoim Anwar karena itu, menyuguhkan banyak nilai
kehidupan sosial yang menarik untuk dikritisi: sosial kemanusiaan, sosial
religiusitas, dan sebagainya.
A. Sosial Religiusitas
Pemahaman akan agama
dan “keyakinan pada Tuhan” didiskusikan dengan tawar-menawar antara dosa dan
kesadara, serta kematian.
Aku datang ke kota ini untuk
membersihkan diri dari debu-debu dan kotoran hati. Pada akhir sisa hidup,
seperti tak ada jalan lain, kota ini menjadi tumpuan pengakuan. Uang pensiun
terkapling tanpa sisa, bahkan kurang. Ratusan, bahkan ribuan perkara yang
pernah aku tangani, menyisakan rasa nyeri. Lingkaran setan dari waktu ke waktu
telah membentuk labirin. Pada akhir sisa hidup ini semua berubah jadi duri.
(halaman 2)
Kutipan di atas
merupakan wujud kesadaran tokoh Aku tentang dosa yang pernah ia perbuat di masa
lampau. Ia merasa dikejar-kejar oleh dosa. Namun dalam hatinya ada keinginan
untuk berubah, memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.
Aliran darahku terasa lebih
kencang. Sebuah permintaan yang aneh. Sekali lagi, aku ke sini untuk mati,
bukan untuk menikmati kehidupan duniawi. Nasib yang dialami Ina mungkin benar
adanya, tapi permintaannya untuk menikah dengan aku jelas tidak mungkin. Ina
dengan Si Bangladesh tentu sudah bergaul akrab. Bahkan, andai aku mau menikahi
dan Ina tidak tinggal serumah dengan aku, aku yakin dia akan tidur dengan Si
Bangladesh. Itu sama saja dengan aku member kesempatan dia untuk melanggar
aturan. Aku akan diperalat oleh dia. Tidak! Tidak! Aku tak mau menuruti
skenario Ina! (halaman 17)
Tokoh Aku bersikeras menolak
ajakan Ina untuk menikah. Karena tujuan utama dia ke Jarwal bukanlah untuk
menikah melainkan mempersiapkan kematiannya. Dia sadar apabila menuruti kemauan
Ina, akan lebih dalam terjerumus dalam dosa.
Aku menggigil. Kematianku mungkin
sudah dekat. Malaikat pencabut nyawa barangkali telah menjelmakan diri sebagai
cuaca yang menusuk hingga ke tulangku. Tapi aku tak boleh mati di bilik yang
sempit dan kotor ini. Aku ingin mati di Tempat Suci. (halaman 18)
……Wajahku terpantul di sana: tua,
kurus, kering, dan keriput. Bisa saja sebentar lagi aku menyusulnya.
Kehadiranku ke sini, tak lain dan tak bukan, adalah untuk mati! Maka,
perkenankan aku untuk menunggunya, di sini, di Jarwal ini….(halaman 22)
Terlihat
jelas dalam kutipan di atas bahwa tokoh Aku telah siap untuk mati. Ia merasa
hidupnya selalu dibuntuti oleh malaikat pencabut nyawa. Meskipun selama
hidupnya banyak melakukan dosa, akan tetapi Ia ingin mati di tempat yang suci
dan dalam keadaan mulia.
Dalam
gambaran di atas, bahwasanya sence of
religi itu mencakup akan pengakuan kebesaran Tuhan, perasaan akan dosa, dan
perasaan takut kepada-Nya. Bagaimanapun Tuhan, tampaknya menjadi tempat
kembali.
B.Sosial Kemanusiaan
Dalam cerpen Kutunggu di Jarwal ini, Shoim juga
mengangkat tokoh bernama Ina seorang TKW dari Indonesia yang diperlakukan
semena-mena oleh majikannya.
“ Begini, Pak,” Ina tampaknya makin
serius, “ seperti juga yang lain, di
sini saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Tuan Abu Jahal. Susah
kalau di sini tak ada suami. Juragan selalu maksa minta begituan setiap saat.”
“Maksudnya?”
“Suruh
melayani kayak hubungan suami istri.”(halaman 12)
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Ina
merasa tertekan dan tidak nyaman bekerja di rumah Abu Jahal. Ia sering
dijadikan budak hawa nafsu majikannya. Perlakuan ini tidak akan berhenti sampai
Ina memiliki suami.
….Nasib
sudah terlanjur begini. Saya menyesal ada di sini. Jangan sampai ada perempuan
ke negeri ini tanpa suami. Kami dibayar paling murah disbanding pekerja dari
negeri lain. Kami disamakan dengan budak, dianggap sah untuk diperlakukan apa
saja oleh tuannya.”(halaman 12)
Dalam kutipan di atas, manggambarkan
bahwa nasib TKW Indonesia di luar negeri memang sangat menyedihkan. Mereka
diperlakukan layaknya budak. Tempat pemuas hawa nafsu para majikan. Upah yang
tidak sebanding dengan pekerjaannya. Terkadang mereka juga dianiaya apabila
melakukan kesalahan. Shoim ingin menunjukkan lewat cerpennya betapa kejam
kehidupan di negeri orang sebagai seorang TKW. Dengan iming-iming gaji yang
tinggi, namun pada kenyataannya banyak yang pulang hanya tinggal nama.
Daftar
Pustaka
Anwar, M. Shoim.
2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo:
Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa.
Yogyakarta : Pustaka Felicha.
Nama:
Fitri Nur Ardiantini
Nim : 105200277
Kelas:
F/ 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar