Senin, 07 Juli 2014

Potret Realitas Sosial dalam Cerpen Kutunggu di Jarwal Karya M. Shoim Anwar



Potret Realitas Sosial  dalam Cerpen
 Kutunggu di Jarwal Karya M. Shoim Anwar

Cerpen sebagai salah satu genre sastra merupakan ungkapan tertulis dari seorang pengarang tentang berbagai hal, termasuk kehidupan sosial. Karena pada hakikatnya kehidupan manusia tersebut sangat tergantung pada kenyataan sosial yang ada dalam suatu masyarakat. Seperti halnya hasil sastra yang lain, cerpen dan realitas sosial saling memberi pengaruh atau menerima pengaruh antara yang satu dengan yang lain. Sehingga sastra termasuk cerpen terwujud dari realitas sosial yang bertata nilai, dan sebaliknya sastra mampu menyumbangkan bagi terbentuknya kehidupan manusia yang bertata nilai.
Hampir semua cerpen Indonesia sejak awal pertumbuhannya hingga dewasa ini boleh dikatakan mengandung unsur pesan kritik sosial. Karena memang, karya sastra merupakan peniruan dari kejadian alam, sosial kemasyarakatan senbagaimana diisyaratkan dalam teori mimesis. Ketika pengarang menjadi anggota masyarakat, kemudian terilhami oleh realitas sosial dan diekspresikannya dalam bentuk karya ; maka di sinilah tergambar bagaimana kedekatan antara pengarang dan karyannya dengan sosial kemasyarakatannya.
Sama halnya dengan M. Shoim Anwar. Sebagai pengarang cerpen, Ia ingin berucap tentang suatu realitas yang sering terjadi di masyarakat saat ini. Cerpen kutunggu di Jarwal mengandung banyak unsur sosial yang terjadi dalam setiap rangkaian peristiwa di dalam ceritanya. Hal ini disebabkan dalam pandangan sosiologi sastra seorang sastrawan memiliki latar belakang sosial kehidupan yang menentukan dalam penciptaan karya sastra. M. Shoim Anwar karena itu, menyuguhkan banyak nilai kehidupan sosial yang menarik untuk dikritisi: sosial kemanusiaan, sosial religiusitas, dan sebagainya.

A.  Sosial Religiusitas
Pemahaman akan agama dan “keyakinan pada Tuhan” didiskusikan dengan tawar-menawar antara dosa dan kesadara, serta kematian.
Aku datang ke kota ini untuk membersihkan diri dari debu-debu dan kotoran hati. Pada akhir sisa hidup, seperti tak ada jalan lain, kota ini menjadi tumpuan pengakuan. Uang pensiun terkapling tanpa sisa, bahkan kurang. Ratusan, bahkan ribuan perkara yang pernah aku tangani, menyisakan rasa nyeri. Lingkaran setan dari waktu ke waktu telah membentuk labirin. Pada akhir sisa hidup ini semua berubah jadi duri. (halaman 2)

Kutipan di atas merupakan wujud kesadaran tokoh Aku tentang dosa yang pernah ia perbuat di masa lampau. Ia merasa dikejar-kejar oleh dosa. Namun dalam hatinya ada keinginan untuk berubah, memperbaiki diri sebelum ajal menjemput.

Aliran darahku terasa lebih kencang. Sebuah permintaan yang aneh. Sekali lagi, aku ke sini untuk mati, bukan untuk menikmati kehidupan duniawi. Nasib yang dialami Ina mungkin benar adanya, tapi permintaannya untuk menikah dengan aku jelas tidak mungkin. Ina dengan Si Bangladesh tentu sudah bergaul akrab. Bahkan, andai aku mau menikahi dan Ina tidak tinggal serumah dengan aku, aku yakin dia akan tidur dengan Si Bangladesh. Itu sama saja dengan aku member kesempatan dia untuk melanggar aturan. Aku akan diperalat oleh dia. Tidak! Tidak! Aku tak mau menuruti skenario Ina! (halaman 17)

Tokoh Aku bersikeras menolak ajakan Ina untuk menikah. Karena tujuan utama dia ke Jarwal bukanlah untuk menikah melainkan mempersiapkan kematiannya. Dia sadar apabila menuruti kemauan Ina, akan lebih dalam terjerumus dalam dosa.

Aku menggigil. Kematianku mungkin sudah dekat. Malaikat pencabut nyawa barangkali telah menjelmakan diri sebagai cuaca yang menusuk hingga ke tulangku. Tapi aku tak boleh mati di bilik yang sempit dan kotor ini. Aku ingin mati di Tempat Suci. (halaman 18)
……Wajahku terpantul di sana: tua, kurus, kering, dan keriput. Bisa saja sebentar lagi aku menyusulnya. Kehadiranku ke sini, tak lain dan tak bukan, adalah untuk mati! Maka, perkenankan aku untuk menunggunya, di sini, di Jarwal ini….(halaman 22)

Terlihat jelas dalam kutipan di atas bahwa tokoh Aku telah siap untuk mati. Ia merasa hidupnya selalu dibuntuti oleh malaikat pencabut nyawa. Meskipun selama hidupnya banyak melakukan dosa, akan tetapi Ia ingin mati di tempat yang suci dan dalam keadaan mulia.
Dalam gambaran di atas, bahwasanya sence of religi itu mencakup akan pengakuan kebesaran Tuhan, perasaan akan dosa, dan perasaan takut kepada-Nya. Bagaimanapun Tuhan, tampaknya menjadi tempat kembali.

B.Sosial Kemanusiaan
Dalam cerpen Kutunggu di Jarwal ini, Shoim juga mengangkat tokoh bernama Ina seorang TKW dari Indonesia yang diperlakukan semena-mena oleh majikannya.
“ Begini, Pak,” Ina tampaknya makin serius, “ seperti juga yang  lain, di sini saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah Tuan Abu Jahal. Susah kalau di sini tak ada suami. Juragan selalu maksa minta begituan setiap saat.”
“Maksudnya?”
“Suruh melayani kayak hubungan suami istri.”(halaman 12)

Kutipan di atas menunjukkan bahwa Ina merasa tertekan dan tidak nyaman bekerja di rumah Abu Jahal. Ia sering dijadikan budak hawa nafsu majikannya. Perlakuan ini tidak akan berhenti sampai Ina memiliki suami.

….Nasib sudah terlanjur begini. Saya menyesal ada di sini. Jangan sampai ada perempuan ke negeri ini tanpa suami. Kami dibayar paling murah disbanding pekerja dari negeri lain. Kami disamakan dengan budak, dianggap sah untuk diperlakukan apa saja oleh tuannya.”(halaman 12)


Dalam kutipan di atas, manggambarkan bahwa nasib TKW Indonesia di luar negeri memang sangat menyedihkan. Mereka diperlakukan layaknya budak. Tempat pemuas hawa nafsu para majikan. Upah yang tidak sebanding dengan pekerjaannya. Terkadang mereka juga dianiaya apabila melakukan kesalahan. Shoim ingin menunjukkan lewat cerpennya betapa kejam kehidupan di negeri orang sebagai seorang TKW. Dengan iming-iming gaji yang tinggi, namun pada kenyataannya banyak yang pulang hanya tinggal nama.

Daftar Pustaka
Anwar, M. Shoim. 2014. Kutunggu di Jarwal. Sidoarjo: Satu Kata.
Kasnadi, Sutejo. 2010. Kajian Prosa. Yogyakarta : Pustaka Felicha.


Nama: Fitri Nur Ardiantini
Nim   : 105200277
Kelas: F/ 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar